perspektif bimbingan dan konseling


 BIMBINGAN DAN KONSELING



A. Latar belakang
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti.. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling diperlukan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa. Di dalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta realistik.
Meskipun keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah sudah lebih diakui sebagai profesi, namun masih ada persepsi negatif tentang bimbingan dan konseling terutama keberadaannya di sekolah dari para guru, sebagian pengawas, kepala sekolah, para siswa, orang tua siswa bahkan dari guru BK sendiri. Selain persepsi negatif tentang BK, juga sering muncul tudingan miring terhadap guru bimbingan dan konseling di sekolah.
Munculnya persepsi negatif tentang BK adalah tidak diketahuinya fungsi,  arah dan tujuan bimbingan di sekolah atau tidak disusunnya program BK secara terencana. Dapat juga disebabkan oleh ketidaktahuan akan tugas, peran, fungsi, dan tanggung jawab guru BK itu sendiri. 



PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Secara etimologi kata bimbingan merupakan terjemahan “guidance” yang berasal dari kata kerja “guide” yang artinya membimbing, menuntun atau membantu. Secara umum bimbingan bisa di artikan sebagai bantuan tuntunan (Hellen 2002:3).
Menurut Shertzer dan Stone (dalam Yusuf dan Nurihsan 2006:40) bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya. Pemberian bantuan kepada setiap individu menjadi tanggung jawab seluruh pihak sekolah, karena pada dasarnya seetiap siswa perlu bimbingan sebab belum mengetahui akan kondisi lingkungan serta yang mencangkup terhadap akademik. Pentingnya bimbingan untuk Siswa agar mampu ngembangkan potensi yang dimilikinya dan berinteraksi dengan lingkungannya supaya menambah pengetahuan serta memahami akan kondisi di sekolah.
Prayitno dan Amti (2008:94) mengemukakan bimbingan adalah proses layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang di perlukan dalam membuat pilihan-pilihan, rencana-rencana dan interpretasi-interpretasi yang di perlukan untuk menyesuaikan diri dengan baik.
Bimbingan dalam lingkungan sekolah sudah menjadi bagian integral dalam menyelenggarakan pendidikan, karna di dasari pada suatu kebutuhan sekolah dalam membimbing peserta didik dan mengembangkan potensi yang di milikinya. Sehingga mempermudah pemahaman terhadap lingkungan sekolah.
Kartadinata (dalam Sulistiyarini dan jauhar 2014:26) mengatakan bimbingan sebagai proses membantu individu untuk mencapai perkembangan secara optimal. Banyaknya permasalahan yang timbul dari peserta didik, perlunya upaya pencegahan dan pemecahan masalah agar peserta didik mampu belajar secara optimal. Perkembangan bimbingan dalam lingkungan pendidikan sudah menjadi kebutuhan peserta didik yang meski dilakukan secara berkesinambungan.

Upaya tersebut membantu peserta didik yang memiliki latar belakang yang berbeda serta karakteristik yang berbeda untuk mampu bergaul secara baik dan memperkuat mentalitas peserta didik dalam kehidupan sosial baik di lingkungan masyarakat dan keluarga. Pemberian layanan yang baik hasilnya peserta didik mampu berperan aktip dalam belajar dan memberi kontribusi yang baik untuk cita-cita dan masa depannya.
Secara etimologi konseling adalah terjemahan dari “counseling” yang berasal dari kata kerja “to counsel” dalam kata lain berarti “to give advice” atau memberikan saran dan nasihat atau memberi anjuran kepada orang lain secara tatap muka (face to face). Berdasarkan arti kata di atas, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran Tohirin (2007:21-22).
Konseling Menurut Daniel (dalam Sulistyarini dan Jauhar 2014:30) adalah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditunjukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungan. Permasalah yang terjadi pada peserta didik sangat beragam baik itu yang di latarbelakangi oleh salahsatu faktor yang membuat peserta didik hilang sikap optimis dalam mencapai masa depannya, sehingga perlunya bantuan bagi peserta didik untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.
ASCA (American School Counselor Assosiation), (dalam Nurihsan 2016:120) mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sifat penerimaan, dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalah.
Beberapa pengertian konseling dapat  yang menggambarkan karakteristik utama kegiatan konseling.
1. Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang sifatnya membantu.
Bantuan itu sendiri yaitu upaya untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan potensinya dan membantu memecahkan masalah-masalah yang di hadapinya.
2. Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal.
Hubungan tersebut yaitu melibatkan seluruh unsur pendidikan dari kedua belah pihak meliputi : Pikiran, perasaan, pengalaman, nilai-nilai, kebutuhan dan lain-lain.
3. Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan konselor dan kliennya.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah, guru dan konselor sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sbagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, di tuntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Masalah-masalah yang timbul pada peserta didik sangatlah beragam, baik itu hal-hal yang dapat menghambat terhadap proses belajar bahkan prilaku kedisiplinan. Hal ini perlu upaya melalui konseling untuk membantu peserta didik dalam memecahkannya.
Sebagai landasan di wajibkan adanya program Bimbingan dan konseling di sekolah, merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan peserta didik. Kenyataan menunjukkan bahwa peserta didik di dalam kehidupannya baik sekolah atau lingkungan masyarakat, selalu menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, persoalan yang lain muncul, demikian seterusnya. Peserta didik tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada peserta didik yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit peserta didik yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling sangat diperlukan.
Setiap peserta didik perlu mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya, Mengenal dirinya sendiri peserta didik akan dapat bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuan yang ada pada pada dirinya. Tidak semua peserta didik mampu mengenal segala kemampuan dirinya, mereka memerlukan bimbingan agar dapat mengenal diri sendiri, lengkap dengan segala potensi yang dimilikinya dan bantuan tersebut dapat diberikan oleh bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling juga diperlukan baik oleh masyarakat yang belum maju maupun masyarakat yang modern. Persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat modern sangat kompleks, makin maju suatu masyarakat maka akan semakin kompleks persoalan-persoalan yang dihadapi oleh anggota masyarakatnya.
Arah bimbingan dan konseling di sekolah adalah memungkinkan peserta didik mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya dimasa depannya.

B. HUBUNGAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukan bahwa manusia didalam kehidupannya selalu menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi, persoalan yang lain muncul, demikian seterusnya. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain,tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling di butuhkan.
Diatas telah dijelaskan pengertian bimbingan dan konseling, yang sepintas terdapat kesamaan dan perbedaannya. Akan tetapi, sesungguhnya bimbingan dan konseling merupakan dua kegiatan kerja yang saling melengkapi. Menurut Prof. Bimo Walgito, para ahli sepakat secara bulat, baik tentang kesamaan antara bimbingan dan konseling serta perbedaanya, maupun saling melengkapinya antara kegiatan bimbingan dan konseling.
Jones, seperti yang di rujuk oleh Bimo Walgito, memandang Konseling sebagai salah satu teknik dan bimbingan. Dengan pandangan ini, pengertian bimbingan lebih luas dibandingkan dengan konseling. Akan tetapi, ahli lain seperti yang dikemukakan oleh blum dan balinky, berpandangan bahwa kedua pengertian istilah tersebut identik atau sama saja; artinya tidak ada perbedaan yang fundamental antara guidance dan cuonseling. Menurutnya, pengertian bimbingan adalah pengertian yang telah usang.18
Pandangan yang lain ialah bahwa guidance dan counseling merupaka kegiatan yang integral, dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perkataan guidance selalu di rangkaikan dengan kata counseling sebagai kata majemuk. Counseling merupakan salah satu jenis tehnik pelayanan bimbingan diantara pelayanan-pelayanan yang lainnya, dan sering dikatakan sebagai inti dari keseluruhan pelayanan dan bimbingan.

C. FUNGSI BIMBINGAN KONSELING
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamworkberkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseling. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi Perbaikan,yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9. Fungsi Fasilitasi,memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
10. Fungsi Pemeliharaan,yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.
D. Asas-asas Bimbingan dan konseling
Pemenuhan asas-asas bimbingan dan konseling akan semakin mempelancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan bimbingan dan konseling (Sudarto dan Nurrihsan 2005:17). Adapun asas-asas di maksud yaitu:
1. Kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibicarakan peserta didik kepada pembimbing tidak boleh disampaikan kepada orang lain.
2. Kesukarelaan
Pelaksanaan bimbingan dan konseling berlangsung atas dasar kesukarelaan dari kedua belah pihak.
3. Keterbukaan
Bimbingan dan konseling dapat berhasil dengan baik jika peserta didik yang bermasalah mau menyampaikan masalahnya yang dihadapi guru pembimbing dan guru pembimbin bersedia membantunya.
4. Kekinian
Masalah yang ditangani pembimbing dan konseling itu masalah sekarang walaupun ada kaitanya dengan masalah yang sudah lampau dan akan datang.
5. Kemandirian
Bimbingan dan konseling membantu peserta didik agar dapat mandiri atau tidak bergantung kepada pembimbing dan orang lain.
6. Keahlian
Bimbingan dan konseling merupakan layanan propesional yang harus dilakukan oleh tanaga profesional/ahli yang khusus di didik untuk melakukan tugas ini.
7. Alih tangan
Bila usaha bimbingan dan konseling telah dilakukan secara optimal, tetapi belum berhasil atau masalahnya di luar kewenanganya maka penangananya dapat dialih tangankan kepada pihak lain yang berwenang.
8. Tutwuri handayani
Bimbingan dan konseling hendaknya secara keseluruhan dapat memberikan rasa amanm, mengembangkan keteladanan, memberi rangsangan dan dorongan serta kesempatan selus-luasnya kepada peserta didik.



PENUTUP
A.KESIMPULAN
Bimbingan konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien agar klien mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan dari seorang pembimbing kepada yang terbimbing dengan tujuan orang yang terbimbing dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya atau dapat keluar dari masalah menuju kebahagiaan.
Konseling adalah proses wawancara antara konselor dengan klien guna mengetahui masalah klien agar klien dapat memahami masalah dan keluar dengan usaha sendiri dengan bantuan konselor.
Hubungan antara bimbingan dengan konseling itu sangat erat sekali. Dari satu segi dapat kita lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang atau kelompok orang, dan dari segi lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan, di samping alat-alat yang lain.
Dalam bidang pendidikan bimbingan mendapat tempat dan peranan yang amat penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen lainya

B.SARAN
Sampainya tulisan ini kepada para pembaca, diharapkan mampu memancing gairah kepedulian untuk ikut berpartisipasi menuju pembahasan yang lebih kompleks lagi. Oleh karena itu penulis sedikit menyengaja memberikan ruang hampa untuk tempat para partisipator menyumbangkan ide-ide yang konstruktif dan imajinatif sebagai calon pemuka intelektual masa depan.
Sehingga adanya kekurang puasan ketika membaca hasil karya ini, adalah implikasi bahwa penulis termasuk hamba Tuhan yang eksis di alam semesta ini, dan memerlukan potensi orang lain untuk lebih produktif. Karena itulah, tarian lisan yang berupa gerak positif maupun negative terhadap kalimat-kalimat ini adalah landasan bagi kesempurnaan hakikat yang dituju.
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan.penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas




DARTAR PUSTAKA


Hellen, Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Press, 2002) hlm. 
Yusuf, Syamsu & Nurihsan, Juntika Ahmad. 2006. Landasan Bimbingan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sulistyarini, dan Jauhar, Mohammad. 2014. Dasar-dasar Konseling. Jakarta: PT Prestasi Pustakarya
Tohirin. 2007. Bimbingan dan konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta PT Raja Grafindo Persada
Nurihsan, Juntika Achmad. 2016. Membangun Peradaban Melalui Pendidikan dan Bimbingan. Bandung: PT Refika Aditama
Zainab Aqil, Ikhtisar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Hal 31-32







Komentar

Posting Komentar