Penjajahan kesadaran kaum muda
Kaum
muda mungkin sudah terdengar tak asing lagi di benak semua orang, kaum yang di
sebut-sebut sebagai pemegang harapan
masa depan , dengan memacu tenaga yang kuat, semangat yang membara, dan tinta
emas yang siap mereka torehkan nantinya.
Tak kayal dengan modal diatas
kaum mudalah yang bisa menghadirkan solusi-solusi revolusioner demi menjawab
realitas yang ada untuk dirinya maupun sekelilingnya. Tetapi kaum muda mana
yang mampu menjelma menjadi pionir perubahan yang dimaksud?. Tentu pertanyaan
ini bisa bisa dijawab dengan berbagai macam sudut pandang.
Alam pikiran kaum
muda mayoritas tertuju akan capaian masa depan yang gemilang dengan seperangkat
usaha yang dilakukannya tetapi hari ini bayangan capaian itu seperti
kontradiksi dengan apa yang dilakukannya.
Kaum
muda sekarang lebih cenderung apatis dan hedonis mengesampingkan persoalan yang
ada dan berjibaku atas kebutuhan otoritasnya sendiri, semisal dengan kemajuan
teknologi yang begitu pesat seperti sekarang ini kaum muda justru terlena
dengan teknologi yang esensinya sebagai bentuk kemajuan ala hasil saat ini
malah menjadi bomerang dengan menurunnya
produksifitas bagi kaum muda, produktifitas dalam hal ini bisa dilihat dari
berbagai hal. Meski tak semua kaum muda seperti itu namun hal tersebut sudah
menjadi salah satu contoh cerminan bahwa kaum muda sekarang sudah harus sadar
dan bangkit dari penjajahan masa kini yaitu penjajahan kesadaran.
kaum muda
sebenarnya dapat dikatakan “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampui” peribahasa ini cukup
menggambarkan bahwa kaum muda dalam pergerakannya mampu mengahadirkan aspirasi
dan partisipasinya yang solutif disegala aspek. Hal ini dimungkinkan karena masih
segarnya pengetahuan dan keluasan pergerakan yang tanpa batas.
kegelisahan lain
bagi kaum muda yaitu takut dalam megimplementasi buah pikirannya atau mungkin
tak berdaya akan keadaan disekitarnya sehingga hanya menjadi angan-angan
belaka, padahal yang pernah dikatakan oleh Tan Malaka “tak ada sesuatu
progam yang revolusioner yang berarti jika tak ada pergerakan revolusioner”
artinya sematang dan sebagus apapun inovasi yang dihadirkan akan menjadi sia-sia
tanpa adanya praksis yang konkret.
Maka dari itu kaum
muda diharapkan mampu menjadi pendongkrak perubahan yang positif, untuk
persoalan yang ada dengan menghadirkan inovasi-inovasi dan bentuk perwujudan perubahan yang nyata. Tak hanya
progesif dalam segi kemapanan berfikir namun juga nilai praktek yang menjadi
tolak ukur penting keberhasilan demi mecapai perubahan positif dengan
signifikan.
Keberlangsungan
masa depan bisa dikatakan sukses atau tidaknya tergantung usaha yang dilakukan
saat ini, jika masih terjerembab dikubangan yang sama maka toh hasilnya tak
jauh berbeda dari apa yang dilakukan, keasadaran sejak dini penting dilakukan
demi terciptanya forma-forma keberhasilan.
Dengan kata lain
seseorang bisa mecapai wujud Eudamonia (istilah dari Aristoteles) bentuk kebahagian
yang dapat dicapai ketika potensi penuh
seorang individu untuk sebuah kehidupan yang rasional dan reflektif atau penuh
renungan.
Nur Kahfi
Komentar
Posting Komentar